Cerpen M Badri
Cerpen M BadriCerpen M Badri
Masih ada kenangan dalam benaknya, terlampau membara untuk dilupakan. Bulan sabit yang diselimuti awan gelap menambah kelam ingatan tentang kampung halaman, gubuk-gubuk kayu, orang-orang lugu. “Masih adakah lubuk hijau itu?” Ia mencoba mengingat sebuah danau yang airnya selalu hijau. Dulu, di masa kecil, ia biasa menombak ikan di sana. Bermain sampan sampai ke tengah, memunguti lumut dan teratai hutan.
Desah nafasnya bersahutan dengan suara serangga hutan, desis ular, kicau burung malam, pekikan siamang. Tapi ia tidak takut, atau langkahnya surut. “Bukankah aku lelaki beraroma rimba,” bisiknya. “Sudah cukup banyak binatang buas yang kubunuh, dan tubuhku, di masa kecil dulu sudah penuh luka oleh duri-duri hutan dan cakaran binatang. Lalu kenapa aku harus takut? Ini tanah kampungku, rimba moyangku. Akulah hantu hutan itu.”
Ia melemparkan cerutu, membiarkan percik apinya dipadamkan angin. Dari kejauhan, ia melihat kerlap-kerlip lampu dari warung-warung liar yang berdiri sepanjang jalan lintas. Tempat ia meninggalkan mobil dan sopir pengantarnya. Ia ingin jalan kaki, sendirian, dalam gelap. Menyusuri jalan berbatu puluhan kilometer ––mungkin sampai pagi. Sampai telapak kakinya penuh darah, penuh luka. Mungkin itulah cara ia mengingat luka moyangnya, luka kampung halamannya. Puluhan tahun lalu.
***
“Aku bukan Gabriel, si malaikat itu. Bukan, aku bukan si malaikat. Aku Awang si anak Sakai degil, si anak hutan yang takut pada suara gergaji mesin dan buldoser. Lalu kenapa namaku menjadi Gabriel? Apa karena si keparat William, ah bukan si keparat. Dia menjadi papaku, orang asing yang membesarkanku. Setelah kampungku luluh lantak, tanpa bekas. Betul, tanpa bekas.”
Ia terus bergumam sambil menghirup udara dalam-dalam. Ingatannya kembali ke puluhan tahun lalu, masa kecil dengan kebahagiaan yang sederhana. Tempat bermainnya sebatas semak belukar dan rawa-rawa. “Akulah Awang!” teriaknya di malam sunyi, disahuti lengking siamang dan burung malam.
Saat itu hutan-hutan masih lebat, rawa-rawa mengalirkan air dengan jernih. Lalu datanglah orang-orang bertubuh tinggi besar, berambut dan berkulit merah. Mereka datang ke hutan dengan pengawalan tentara. Survei katanya, sebab di hutan itu ditengarai terdapat banyak sumber minyak bumi. Kemudian di waktu yang lain, datang orang-orang yang berbeda. Juga melakukan survei dan pemetaan. Katanya, hutan-hutan itu sangat potensial dijadikan bahan baku kayu lapis dan kertas.
Mereka semakin sering datang, sesekali mampir ke gubuk-gubuk renta di tengah hutan. Memberi anak-anak kecil makanan dalam kemasan, minuman kaleng, biskuit dan sebagainya. Awalnya anak-anak takut kepada orang asing, tapi lama kelamaan menerima makanan aneh itu. Juga Awang, si anak degil yang tubuhnya dipenuhi guratan onak. Sebab makanan bagi mereka, hanya buah dan umbi-umbian hutan. Juga ikan-ikan rawa yang biasa mereka tangkap dengan tombak atau bubu.
Lalu, semakin banyak orang datang. Semakin banyak suara mesin meraung-raung. Mereka menebangi hutan, membabati semak belukar dan meracuni sungai-sungai untuk diambil ikannya. Binatang buruan semakin jarang, sebab orang-orang asing itu menembakinya untuk dijadikan santapan. Anak-anak semakin takut, sebab raungan mesin gergaji dan buldoser siang malam membisingkan hutan. Meriuhkan ketenangan rimba yang selama ini mereka hayati.
“Di mana kini Lamira? Si cantik berambut panjang itu. Perawan harum bunga rimba, yang setiap pagi dan petang pergi ke sungai. Ah, di mana perawan malang itu kini berada. Sudahkah dia setua aku dan tinggal di kota?” gumamnya lirih. Dia terkenang Lamira, gadis kampungnya yang lugu dan pemalu. Dulu, dulu sekali di masa kecilnya, perawan cantik itu pernah dikabarkan hilang. Lalu dua hari kemudian ditemukan menangis tersedu-sedu di bawah sebatang pohon meranti tua. Hilang diculik begu, si hantu hutan itu kah?
“Tidak! Aku tidak percaya dengan bualan tentang hantu hutan yang suka menculik perawan. Sebab kejadian itu baru sekali, pada Lamira. Sebab kami juga berkawan dengan hantu-hantu itu, yang setiap purnama kami hibur dengan tarian dan tetabuhan. Lamira tidak diculik dan disetubuhi begu. Aku yakin sekali, dia disekap dan diperkosa oleh orang-orang perusahaan itu. Karena ia selalu lari ketakutan dan menangis setiap orang-orang itu datang, atau sekadar lewat di kampung.”
Ia terus melangkah, hingga telah melewati beberapa bukit dan tikungan. Malam semakin larut, ditandai dengan bunyi binatang nokturnal yang semakin ramai. Suaranya gaduh seperti pasar malam di tepi jalan berbatu dan semak belukar sepi itu. “Lalu di mana kini Lamira? Mungkinkah dia salah satu dari puluhan perempuan tua penjual kacang rebus di rumah makan dekat jalan lintas tadi? Aku sudah sangat lupa dengan wajahnya, apalagi harum bunga rimba di tubuhnya.”
Sejak kedatangan mesin-mesin raksasa ke tengah hutan itu, semakin banyak pohon ditebang. Kayu besar diangkut truk tronton roda sepuluh, katanya untuk bahan kayu lapis. Sedangkan kayu kecil diangkut untuk bahan baku kertas. Mereka semakin banyak mendatangkan mesin-mesin dengan suara melengking. Membuat lubang dengan mesin bor, lalu memasang robot yang mengangguk-angguk setiap saat. Belakangan ia tahu, itu pompa untuk mengangkat minyak bumi yang banyak terdapat di dalam tanah, di dalam hutan. Mengalirkannya ke pipa-pipa raksasa yang memanjang tak putus, melengkung mengikuti arah jalan.
Jumlah pipa semakin banyak, mengikuti pertambahan mesin pengeboran minyak. Kemudian, ketika jalur pipa mengarah ke kampung penduduk suku terasing itu, masalah mulai terjadi. Sering terjadi pertengkaran antara penduduk kampung dan orang-orang perusahaan. Apalagi ketika sungai kecil yang melintasi perkampungan tak seberapa besar itu, banyak dicemari limbah minyak. Ikan-ikan mati, hutan-hutan habis, orang-orang kampung semakin bernasib tragis.
“Itulah malam jahanam! Mereka, orang-orang perusahaan, membakari gubuk-gubuk kami. Mengusir dan memporak-porandakan kehidupan kami.” Ia tetap meneteskan air mata, saat berjalan di samping pipa di tepi jalan itu. Air matanya semakin menderas, ketika ia ingat ibu bapaknya, juga dua adiknya ––yang tidak pernah ditemuinya lagi sampai sekarang. Samar-samar ia masih ingat, ketika terjebak di kobaran api dan terpisah dari orang-orang kampung yang berlarian ke dalam hutan. Ia masih ingat, saat seorang lelaki berkulit dan berambut merah menggendongnya menjauh dari kobaran api.
“Sampai kini aku tidak tahu, apakah mesti berterimakasih atau mengutuki William. Mengabdi atau mencaci papa Will?” ia menendang kaleng bekas soft drink yang dibiarkan tergeletak di tepi jalan. Kaleng itu mengenai salah satu sisi pipa. Klontang!
Ia juga masih ingat, setelah itu penolongnya ––kemudian ia ketahui bernama William–– membawanya ke barak, menjauhkannya dari kehidupan rimba, menyekolahkannya. Kemudian setelah bisa sedikit berbahasa Inggris, ia dibawa pulang ke negaranya, tempat asal perusahaan pengeboran itu. Saat itu kebetulan masa kontrak William di perusahaan sudah habis. Maka budaya rimbanya kemudian terkikis, menjadi budaya metropolis. Berpuluh-puluh tahun, sampai ia ingin kembali ke masa lalunya. Pulang ke bekas kampung halamannya, tanah moyangnya.
Ia memandangi beberapa pompa angguk yang terdapat di tepi jalan. Juga cerobong di bekas pengeboran yang selalu mengeluarkan api, meliuk-liuk di angkasa dengan jalang. “Aku yakin, setelah puluhan tahun pasti tanah-tanah di sekitar areal pengeboran ini berongga. Kalau ada gempa besar mungkin akan runtuh dan menyisakan lubang menganga. Aku yakin itu, seperti kampung penuh lumpur di timur pulau Jawa yang sampai sekarang masih menyisakan luka.”
Ia tersenyum kecut. Matanya memandang silhuet beberapa pohon meranggas. Berdiri di antara batang-batang kelapa sawit yang tumbuh tak teratur di beberapa tempat. “Aku tidak bisa membayangkan, seandainya kebakaran hutan yang setiap tahun melanda daerah ini, tiba-tiba meledakkan pipa-pipa itu. Tempat ini akan menjadi neraka.” Ia berhenti dan menyandarkan tubuhnya di samping pipa, menyalakan rokok, lalu menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Ia istirahat sambil melamun, menikmati keheningan malam di tepi jalan menuju bekas kampungnya.
***
“Siapa kau! Malam-malam berkeliaran di areal pengeboran?” hardik security berseragam biru tua.
“Aku Gabriel si malaikat, bukan, aku Awang si anak Sakai. Aku mau melihat sisa kampungku,” jawabnya gugup.
“Tak ada perkampungan di sini. Kau mau mencuri? Kau anggota bajingan pencuri besi tua ya? Ayo ngaku!” seorang security menarik kerah bajunya.
“Tidak! Bukan! Aku mau mengunjungi bekas kampungku.”
“Pukimak! Maling mana mau ngaku!”
“Ayo kita bawa ke pos,” kata security yang lain sambil mendorongnya ke bak mobil patroli.
Braaak!
Security itu menghempaskannya sambil memaki-maki. Lalu mobilnya segera menderu ke arah jalan raya, ke arah yang tadi dilewatinya. Tubuhnya telungkup dengan borgol di tangan. Dari bias lampu mobil, dia masih bisa melihat pipa-pipa besar itu semakin memanjang dan menjauh. Di tepi jalan berbatu, menjauhkannya dari bekas kampungnya, di masa lalu.
Air matanya masih tersisa. Sejenak ia teringat gubuk-gubuk kayu di tengah hutan, kampungnya di masa lalu, orangtua dan adik-adiknya. Rumah mungilnya di tepi Mississipi, istri dan seorang anaknya. Juga William yang kini telah tua dan pikun, teronggok di kursi roda. Dia merasa harus segera pulang, entah ke bekas kampungnya atau kembali ke negaranya. Kemudian pandangannya menghitam, semakin gelap, mengikuti warna pipa di depannya.***
Dumai – Bogor, 2007
Cerpen M Badri
Mereka menyandarkan tubuhnya di pagar sungai. Menatap aliran airnya yang perlahan dan kehitaman. Di sekitarnya, gedung-gedung tinggi menjulang menghimpit matahari senja yang bersinar kemerahan. Sebagian cahayanya memantul di antara tumpukan sampah yang berputar dan mengendap. Mereka menikmati matahari yang perlahan-lahan meredup. Berganti dengan lampu-lampu yang sebagian tertata rapi, dan sebagiannya lagi berserakan. Suasana itu mengingatkannya pada lanskap enam puluhan tahun lalu. Di tepi sungai ini, mereka biasa menunggu malam di bawah sebatang asam ranji tua sambil memainkan harmonika. Mereka sangat menikmatinya, saat kunang-kunang mulai beterbangan dari satu perdu ke perdu lain. Bersaing dengan bintang-bintang yang bermunculan. Tak ada bunyi jangkrik lagi di kampung ini ––yang kini menjadi kota. Apalagi lenguh kerbau dan bising anak-anak pergi ke surau.
Hasan dan Frans, mereka kembali bertemu dua hari yang lalu. Setelah lebih enam puluh tahun menjalani takdir masing-masing. Pertemuan yang direncanakan, setelah pertemuan sebelumnya karena ketidaksengajaan. Sebulan lalu, Hasan baru saja diundang Greenpeace ke kantor pusatnya di Amsterdam. Ia menerima penghargaan dari organisasi lingkungan internasional itu, sebagai orang yang hampir seumur hidupnya menjaga kelestarian lingkungan. Memelihara kelestarian hutan dan cadangan air di kampungnya, yang semakin lama semakin menipis. Sebab di lereng gunung, di kampungnya, vila-vila terus bermunculan. Berdiri angkuh setelah merobohkan pohon-pohon dan tebing. Usaha yang oleh orang kebanyakan dianggap sis-sia, itulah yang kemudian dihargai.
Hasan bertemu kembali dengan Frans, saat jalan-jalan menyusuri taman kota Amsterdam suatu sore, di hari terakhir kunjungannya ke kota itu. Dua lelaki tua, duduk berhadap-hadapan di bangku yang berbeda. Satunya memegang tongkat dari logam ringan, satunya lagi menyandarkan punggung rentanya di bangku taman. Tak ada percakapan, Hasan hanya menajamkan pandangan ke arah lelaki tua di depannya. Hampir setengah jam berpikir, sebelum memutuskan untuk menyapa.
“Kau itu Frans?” Ia mulai bicara. Enam puluh tahun lebih bukan waktu yang baik untuk menyimpan ingatan.
“Benarkah itu kau?” Ia kembali menegaskan.
Lelaki di depannya, yang kelihatan lebih tua, masih diam dan heran. Dia melepas kacamata tebalnya, lalu memasangnya lagi, berkali-kali. Alat bantu dengar yang menempel di telinganya dia sempurnakan letaknya.
“Frans?”
“Who are you?” dia menurunkan posisi kaca matanya.
“Hasan! Hasan Bin Makmun...”
Tapi dia masih heran dengan orang yang menyapanya dengan bahasa Indonesia. Sebab puluhan tahun dia tidak menggunakan bahasa itu. Tapi dia masih mengingatnya, meskipun kosa kata yang dihapalnya sudah banyak yang luruh, seiring dengan renta usianya.
“Siapa kamu?” dia memastikan.
“Hasan! Sungai Ciliwung...”
Dia masih berpikir. “Hasan, sungai Ciliwung... Sungai Ciliwung... Hmm...”
“Batavia! Jakarta! Indonesia! Harmonika! Ya, harmonika di sungai Ciliwung...” Hasan diam sejenak sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk membantu ingatan lelaki tua itu.
“Asam ranji...!” Dia tahu lelaki tua di depannya menyukai pohon besar yang dulu sering didatanginya, setiap senja, sambil memainkan harmonika.
Lelaki yang dipanggil Frans mengangguk-angguk.
“Ya, ya... I ingat, ingat... Asam ranji di Hindia, Indonesia...”
Dia tersenyum.
“Hasan cowboy.... Ya? Eh, penggembala itu bull, ker-ker-kerbau... He-he-he...” Dia terkekeh, memperlihatkan barisan gusinya yang tanpa gigi.
“Iya, Hasan gembala kerbau... Ternyata kau masih ingat, Frans?”
Kemudian mereka berpelukan, lama sekali, sambil meneteskan sisa air mata yang mengalir dari mata mereka yang telah dikerumuni kerak katarak. Sore di Amsterdam itu, kemudian menjadi cerita panjang. Sampai hampir tengah malam mereka bernostalgia tentang masa lalu. Kemudian Hasan mengundang Frans berkunjung ke Indonesia, setelah berpuluh-puluh tahun.
***
Dua remaja itu, Frans dan Hasan––tentunya setelah Hasan meninggalkan kerbau-kerbaunya di lapangan rumput yang tidak jauh dari sungai–– menyukai pemandangan itu. Gadis-gadis cantik di atas sampan, berkulit lembut dan bibir kemerahan. Senja menjadi sangat romantis, meskipun mereka sama sekali tidak berani menyapa gadis-gadis itu. Hanya suara harmonikanya saja yang kadang menggoda. Balasannya cukup dengan senyuman. Sederhana bukan?
Frans beribu Manado dan bapaknya perantau Belanda yang menjadi pegawai rendahan di perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda. Namun setelah Indonesia dikuasai Jepang, kemudian keluarganya pulang ke Belanda. Hampir setahun mereka berkawan, sebab Frans yang Indo tidak berkawan dengan para pemuda Eropa. Dia sering menyendiri di dekat asam ranji. Kemudian bertemu Hasan, si penggembala yang sering menunggu kerbau-kerbaunya merumput di tempat sama. Frans mengajarinya bermain harmonika dengan irama-irama sederhana.
“Sungai ini sangat indah. Alirannya selembut rambut gadis-gadis itu.” Frans bergumam sambil membolak-balik kumpulan sajak William Butler Yeats, pemenang Nobel 1923 yang sajak-sajaknya dinilai inspiratif dan kebesaran bentuk artistiknya menghidupkan daya hidup semua bangsa. Buku yang dicetak stensilan dengan huruf-huruf kabur tersebut sering dibawanya bergantian dengan syair puitis Rabindranath Tagore dan puisi kritis T.S. Eliot.
“Begitu berartikah sungai, bagimu?”
“Iya, sungai sumber kehidupan semua mahluk di sekitarnya. Sumber keindahan kita juga bukan?”
“Benarkah?” kata Hasan sambil terus memainkan harmonikanya.
“Bayangkan jika sungai ini kotor! Mana mau gadis-gadis di sampan itu bermain di atasnya. Tempat yang indah selalu mendatangkan keindahan...”
“Dari mana kamu dapat kata-kata itu?”
“Ini! Kalau kamu ingin memaknai keindahan, baca ini...” Dia menyodorkan sebuah buku puisi lusuh.
“Aku tidak bisa membaca. Nantilah kamu ajari... Sementara, aku memaknainya dengan lagu-lagu.”
Frans tersenyum. Dilemparkannya sebuah kerikil kecil ke tepi sungai. Plung!
Hasan masih meniup mainan barunya. Sejak itu mereka sering menghabiskan senja bersama-sama. Di tepi sungai di bawah asam ranji, bermain harmonika, memandang gadis-gadis cantik di atas sampan yang hilir mudik dari hulu ke hilir. Tanpa berani menggodanya. Hanya irama harmonika dan tatapan mata yang seolah bicara.
***
“Percuma kerjaan kau, San!” kata sebagian orang-orang kampungnya.
“Buang-buang tenaga. Lebih baik kau cari makan buat anak binimu!”
Mereka mengejek Hasan, ketika dia menanami tanaman keras di beberapa tanah tandus di lereng gunung. Namun dia tak patah arang. Bertahun-tahun kemudian tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Lereng gunung pun semakin indah, setiap pagi dan senja selalu diselimuti halimun. Hijaunya pegunungan menjadi sumber air bagi sungai-sungai di bawahnya. Hasan melakukan itu, sampai usianya menua. Meskipun dia harus sering bertengkar dengan orang-orang yang lebih suka membabat pepohonan.
Hasan kembali menanaminya, ketika sebagian habis ditebang. Juga ketika sebagian tanah kampung di lereng-lereng gunung itu mulai dijual kepada orang-orang kota. Lalu rumah-rumah persinggahan, vila-vila mewah tumbuh menggantikan pepohonan. Benar kata Frans, pikirnya. Tempat yang indah selalu mendatangkan keindahan. Dulu, keindahan masih alami dengan pepohonan yang menghijau sepanjang lereng gunung yang sebenarnya rawan longsor. Tapi kemudian keindahan berganti, menjadi vila-vila mewah. Keindahan yang kemudian sering mendatangkan bencana.
Tapi Hasan tidak peduli, setidaknya lingkungan sekitar rumahnya masih hijau. Dia selalu menanam, ketika orang-orang kampung lainnya sibuk menebang dan menjual. Maka di antara lereng pegunungan yang meranggas itu, masih ada sisa hutan yang menghijau. Masih mendatangkan keindahan setiap pagi dan petang, saat halimun datang. Dia masih percaya, sebatang pohon masih menyediakan setetes air ke sungai yang mengalir ke hilir. Seperti sebatang pohon asam ranji yang mendatangkan keindahan di masa lalu.
***
“Sungguh tragis nasibnya. Tak ada lagi gadis-gadis bersampan. Kini hanya sampah dan limbah industri yang mengikuti arusnya yang kehitaman. Tak ada lagi aroma minyak wangi dari gadis-gadis Belanda dan Tionghoa itu. Tak ada lagi keindahan. Semuanya berubah menjadi aroma kematian,” Frans bergumam lirih.
“Benar katamu. Setiap musim hujan selalu banjir, entah sudah menelan berapa banyak korban. Sebab beton-beton itu menghambat resapan air. Belum lagi sampah dan limbah.” Hasan menerawang jauh ke kampungnya.
“Sementara di hulu, di lereng gunung, di kampungku pepohonan nyaris habis ditebang. Dijadikan vila-vila milik orang kota juga. Itulah kondisi sekarang Frans, kebijakan pemerintah negeri ini jarang yang memihak alam. Selalu uang dan uang!” kata Hasan kesal.
“Lalu, di mana asam ranji itu?” Frans ingat pohon tua yang dulu selalu mereka datangi setiap senja.
“Kira-kira di situ!” Hasan menunjuk sebuah rumah susun sederhana yang berdiri tepat di tepi sungai. Dari atas, salah seorang penghuninya terlihat melemparkan bungkusan plastik hitam ke sungai. Blung!
Frans tersenyum sinis. Tongkatnya dia hentak-hentakkan ke besi pagar sungai, hingga menimbulkan suara berdenting. Dia memandang sekitar sungai yang terlihat surut dan hitam.
“Selalu banjir, katamu?”
“Ya, begitulah... Kota ini drainasenya buruk, buruk sekali. Sementara di hulu, di lereng gunung itu, pepohonan yang menjadi sumber cadangan air dan resapan air selalu berkurang. Kalau hujan Frans, dan di hulu memang sering hujan. Air langsung menderas ke sini, ke kota ini. Banjir, dan itu bisa beberapa kali setahun.”
Frans manggut-manggut. “Tapi setidaknya kau sudah berusaha menjaganya kan?”
“Itu tidak cukup berarti. Sebab yang merusak jauh lebih banyak!”
Lalu Hasan melemparkan lima biji asam ranji ke sungai.
“Siapa tahu masih mau tumbuh,” katanya sambil tersenyum.
Kemudian mereka menyusuri tepi sungai itu sejauh beberapa puluh meter, sebelum kembali ke hotel tempat Frans menginap. Malam semakin larut, dua lelaki tua itu juga larut dalam cerita masing-masing, tentang takdir masing-masing. Tak ada lagi suara merdu harmonika, selain lagu-lagu dari kafe-kafe liar di tepi sungai. Berbaur dengan lampu warna-warni, yang di masa lalu masih berupa kunang-kunang di rerumputan dan reranting pepohonan. Arus sungai tetap hitam, sampai langkah kaki mereka hilang di tikungan.***
Cerpen M Badri
Kami orang kampung. Nenek moyang kami sejak dulu hidup dan mati di kampung. Hutan belantara dan rawa adalah jiwa kami, nyanyian burung dan lengkingan siamang adalah hiburan setiap pagi dan petang. Untuk sampai ke kampung, orang-orang dari kota harus menempuh jarak ratusan kilometer di jalan batu yang sama kerasnya dengan jalan hidup kami. Lalu menerabas ke dalam hutan yang meliuk-liuk mengikuti irama bukit dan lembah.
Kami berladang karet dan umbi-umbian untuk menyambung hidup yang luasnya sejauh matahari terbit dan terbenam. Ada juga beberapa pohon sialang yang masih setia menampung lebah penghasil madu. Maka setiap bulan purnama kami beramai-ramai pergi ke hutan untuk mengadakan pesta panen madu sambil mendendangkan tetabuhan. Dan anak-anak menari di antara tiang-tiang yang memancang rumah. Memancang tubuh kami untuk tetap lahir, hidup dan mati di kampung ini. Lalu apakah aroma kulit kayu yang hijau harus berubah menjadi anyir darah yang memerahkan kampung?
***
Aku belum lagi selesai mengangkat getah karet terakhir ke dalam gerobak. Tiba-tiba puluhan lelaki tinggi besar mendobrak pintu rumah. Mengacak-acak isinya sambil memaki-maki, menakut-nakutiku juga penduduk kampung lainnya dengan bedil dan parang. Aku bahkan tidak sempat melihat sorot mata mereka, karena tiba-tiba puluhan lelaki itu memukul dan menyereti kami seperti seekor anjing. Aku hanya mendengar anak-anak menjerit dan perempuan menangis, di antara gemeretak kayu-kayu ambruk dan bedil menyalak.
Siapakah mereka? Kami hanya melihat cadar hitam yang menutupi muka mereka. Barangkali di baliknya, ada wajah beringas dan mata liar yang siap membakar apa saja. Karena tiba-tiba api membumbung tinggi dari sebuah rumah, melumat atap rumbia dan menghanguskan dinding-dinding meranti. Sampai di situ kami hanya diam, sebab sejak dulu nenek moyang kami tidak pernah mengajarkan permusuhan.
“Segera tinggalkan kampung ini. Tanah kalian sudah menjadi milik perusahaan!” Seseorang berbadan tegap berteriak sambil mengacung-acungkan bedil laras panjang ke muka kami. “Kalau sebulan mendatang kalian masih di sini, kami akan bakar kampung ini sampai selesai!”
“Tapi ini tanah kami!”
“Sudah turun temurun kami hidup di sini!”
“Hutan moyang kami!”
Dan, “Brakkk.....”
Gagang bedil menghantam muka Datuk Talma. Tetua kampung itu tersungkur dengan darah mengucur, dari hidung dan bibir. Gigi kami gemeretak, menahan amarah. Namun hanya bisa menahan, tanpa kuasa mengeluarkan. Karena kami takut terkena kutuk kalau sampai menyebarkan permusuhan. Kami takut sungai di selatan kampung mengamuk lagi, menggenangi hampir seluruh kampung. Seperti ketika Rustam dan Awang berkelahi sampai satunya mati, beberapa tahun silam. Banjir bandang setinggi atap rumah meratakan semua tanaman yang tumbuh di ladang. Begitulah, kami tidak menyukai permusuhan, seperti kami tidak menyukai kematian dan banjir bandang.
Apakah kami harus diam ketika marwah kami diinjak-injak para pendatang? Mereka telah membabat separuh hutan, melebihi batas areal mereka, membakarnya, dan menjadikannya lahan perkebunan. Padahal nasib kami masih tergantung dengan hutan, pohon sialang, dan lebah madu. Tonggak pembatas selalu berubah dan semakin mendekati perkampungan. Semakin hari hutan kami semakin sempit. Sekarang malah akan menggusur, menguasai kampung yang sudah turun temurun kami tempati.
Kemudian mereka pergi. Meninggalkan luka yang membekas di dada. Tapi kami tetap tidak akan menyebarkan permusuhan. Awalnya, beberapa tahun silam ada perusahaan perkebunan milik kerabat menteri yang membuka lahan di sini. Mereka dengan sesuka hati mematoki hutan dan menebanginya, lalu membakarnya. Kampung kami diselimuti kabut selama 40 hari 40 malam. Betapa sesak dada kami bukan? Tapi kami membiarkannya, karena mereka belum terlalu mengusik. Hanya raungan gergaji mesin yang sayup-sayup sampai ke telinga. Namun entah mengapa, beberapa bulan terakhir ini, kampung ini menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka. Mereka ingin menguasai tanah kampung, dan mengusir kami seperti segerombolan babi hutan.
Beberapa hari berselang, keadaan kembali seperti semula. Kami melakukan aktivitas seperti biasa. Ke kebun karet, ke ladang menyemai umbi-umbian, atau ke sungai memancing dan memasang bubu. Malam purnama, anak-anak menari di bawah bulan. Beriring tetabuhan dari kulit rusa yang dikeringkan. Lagu-lagu dan sorak-sorai seolah melupakan kejadian beberapa malam sebelumnya. Kami tak akan pergi, meninggalkan kegembiraan ini, setelah bertahun-tahun menyulami siang dan malam. Seperti mendendangkan nyanyian panjang.
Tangan-tangan saling berpegangan, ada api unggun di tengahnya. Selama beberapa malam, sampai purnama tak lagi bertandang. Lalu senyap kembali menyelimuti kampung kami. Begitulah, setiap purnama masyarakat kampung berkumpul di tanah lapang. Sorak-sorai menyambut para lelaki selesai memanen madu. Makan bersama di tanah lapang. Kebahagiaan kami sederhana bukan? Tapi kenapa orang-orang asing itu mengganggu kami? Dengan parang dan bedil laras panjang.
“Sampai kapan kita bisa menali di bawah bulan abah?”
Putri kecilku, menggelayut di pundakku. Jemarinya yang lentik memainkan rambut-rambut halus yang memanjang di daguku. Di langit, bulan samar-samar mengintai dari balik awan yang memar.
“Kita akan terus menari nak!”
“Tapi ada olang-olang jahat!”
Matanya yang polos memancarkan ketakutan, mungkin juga kebencian. Ada aliran bening yang keluar dari hulu matanya. Dia melihat kilatan api unggun yang hampir habis.
“Mengapa meleka mengamuk di kampung kita abah? Meleka jahat! Jahat! Jahat! Ihhhhh........”
Kakinya dihentak-hentakkan ke tanah, beberapa kali, sampai dia lunglai dan tertidur di bahuku. Mungkin putri kecilku sempat menyaksikan kejahatan orang-orang yang menyerang kampung, beberapa hari lalu, sebelum purnama. Dan ingatannya masih merekam setiap makian, kilatan parang, api yang membumbung tinggi. Terus tersimpan menjadi dendam, meskipun hanya tersimpan. Karena nenek moyang kami tidak pernah mengajarkan permusuhan.
***
Kami terus hidup melewati hari-hari sunyi. Malam terasa asing, karena purnama telah selesai. Hanya gesekan pepohonan yang dimainkan angin, terus menciptakan irama murung ––melodi kampung. Notasi-notasi menjadi begitu kosong, tanpa rima, tetabuhan derita. Apalagi bila kami teringat ancaman mereka, sebulan kami tidak meninggalkan kampung ini, akan dibakar!
Kampung kami tak seberapa besar. Bila orang-orang asing itu datang dan menyerang dengan membabi buta, kami pasti tak berdaya. Apalagi jumlah mereka hampir seimbang dengan banyaknya lelaki dewasa di kampung kami. Karena kami tidak menyukai permusuhan, maka kami tak punya parang untuk berperang, apalagi bedil laras panjang. Kami hanya menyimpan parang untuk menebang kayu dan pisau pemotong getah karet yang kami simpan di kolong rumah. Di antara tiang-tiang pancang yang kami buat tinggi-tinggi, untuk menyimpan hasil ladang. Di sana para perempuan sering berkumpul menyaring madu, lalu di masukkan ke dalam botol dan kami jual di pinggir-pinggir jalan batu yang jaraknya seperempat hari jalan kaki dari kampung.
Mobil-mobil balak yang lewat di jalan batu sering berhenti. Membeli umbi-umbian, getah karet, dan madu dari hutan kami atau sekedar menggoda anak-anak gadis dari kampung kami yang lugu dan pemalu. Kadang kami juga menukar hasil ladang dengan beras dan minyak, kalau kami tak sempat pergi ke pasar yang teramat jauh jaraknya. Kami biasa menumpang mobil balak atau mobil pengangkut buah sawit untuk ke pasar, dengan upah sebotol madu. Roda mobil selalu gemeretak beradu dengan batu-batu di jalan, yang setiap kemarau meninggalkan gumpalan debu. Beberapa anak gadis kampung kami bahkan ada yang dipinang sopir-sopir mobil balak itu, lalu dibawa entah ke kampung mana, dan tidak pernah kembali lagi.
Begitulah, luas kampung kami hanya sejauh matahari terbit dan tenggelam. Hingga tidak terasa, sebentar lagi purnama. Masih adakah sorak-sorai, tari-tarian di bawah bulan? Juga tetabuhan? Karena kedatangan puluhan lelaki tinggi besar berparang dan bedil panjang, sudah hampir sebulan berlalu. Kata-kata kasar mereka kembali terngiang di telinga kami. “Kalau sebulan mendatang kalian masih di sini, kami akan bakar kampung ini sampai selesai!”
Sampai selesai? Apakah itu maksudnya sampai tak tersisa. Lalu di manakah kami akan tinggal? Sudah turun temurun kami hidup di sini. Karena ini tanah moyang kami, hutan yang di wariskan leluhur kami. Kami tidak akan pergi! Kami masih ingin melihat anak-anak menari sambil sorak-sorai, di bawah bulan. Sambil menunggu para lelaki pulang memanen madu dari pohon-pohon sialang, perempuan kampung kami tetap akan menyiapkan makanan. Untuk kami nikmati bersama-sama, sambil mempersembahkan tetabuhan kepada alam yang menyediakan hidup untuk kami.
Kami tetap ingin menari di bawah bulan. Karena itu kebahagiaan kami. Kami tidak akan pergi. Karena sejak dulu moyang kami hidup dan mati di kampung ini. Di langit, purnama mulai mengintai dari balik ranting-ranting pepohonan. Kami kemudian mengumpulkan kayu kering, lalu ditumpuk tinggi-tinggi. Kalau orang-orang asing centeng perusahaan itu datang kembali, mungkin ini menjadi tarian terakhir. Maka kami akan membuat api unggun yang lebih besar dari biasanya. Kami akan menari sepuasnya, di bawah bulan. Indah bukan?
Haaa... Hooo... Heee... Haaaa......
Prakk..!!! Prakk.. !!! Dung..! Dung.. !!!
Prakk..!!! Prakk.. !!! Dung..! Dung.. !!!
Haaa... Hooo... Heee... Haaaa......
Api membumbung tinggi. Bulan purnama merekah, dengan sinar yang memerah. Beradu dengan cahaya api yang menjilat-jilat ke angkasa, seperti lidah raksasa. Tetabuhan terus beradu dari tangan-tangan kekar, beriring sorak-sorai perempuan kampung kami. Tapi tak ada yang menari? Kami duduk dan berdiri dengan cemas, melihat ke setiap penjuru, semak belukar dan kayu-kayu besar. Kami semua memegang parang, yang biasa kami pakai untuk menebang pohon, memotong getah karet, menyayat ikan. Kami tetap siaga, meskipun tetabuhan dan sorak-sorai terus bersahutan.
Siapa ingin menari? Mungkin kami akan membuat tarian kematian, untuk terakhir kalinya, kalau orang-orang itu datang. Meskipun moyang kami tidak pernah pengajarkan permusuhan. Kami hanya menjaga marwah, untuk tetap lahir, hidup, beranak-pinak dan mati di kampung ini. Siapa ingin menari? Hanya lidah api dan cahaya purnama, yang meliuk-liuk dimainkan angin. Siapa ingin menari? Hingga dini hari tak ada yang datang, tak ada tarian......***
Pekanbaru – Bogor, 2005 – 2006
Loktong1
***
Begitulah, akhirnya para penculik itu menjual kelaminnya setiap ada kapal yang merapat di dermaga. Berbagai warna kulit dan aroma keringat akhirnya ia rasakan, seperti mata tombak yang terus merajam; ia hidangkan seonggok daging bernanah dan ketuban berisi peluru. Suatu ketika mungkin akan menjelma cacing dan kecoa yang selalu terekam di surat kabar. Dan ia akan tertawa mengutuki diri, sambil menelan pil pahit dari langit, yang ia percayai kiriman Dewi Kwan Im. Abad gelap telah pergi?
1 Loktong yang berarti pelacur, dari catatan Hasan Junus di rubrik Rampai, Riau Pos, Minggu, 28 November 2004. Esei sastra yang menceritakan tentang penculikan ratusan gadis tanggung oleh sindikat pelaku kriminal di daratan Cina, untuk dijadikan pelacur di beberapa negara. Konon, mengutip dari tulisan di majalah TIME berjudul “The Sky is Falling”, dampak pelacuran tersebut ikut meningkatkan jumlah perempuan bunuh diri di Cina. Menurut TIME, Cina tercatat sebagai satu-satunya negeri di dunia yang jumlah pembunuhan diri lebih banyak perempuan dibanding lelaki. Esei tersebut juga mengilhami penulisan cerpen ini.
2 Dari cerpen Triyanto Triwikromo “Pelayaran Air Mata”, Koran Tempo, Minggu, 16 Oktober 2005.
3 Bait kedua sajak Goenawan Mohamad “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”, dari buku Goenawan Mohamad: Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor Publishing, 2001.
4 Setiap akhir pekan biasanya para lelaki hidung belang dari Singapura melakukan pelesiran ke beberapa lokalisasi yang ada di Batam.
Cerpen M Badri